Kembalinya Raksasa Korea Utara di Piala Asia Wanita
Setelah 12 tahun, Korea Utara kembali ikut serta di Piala Asia Wanita 2026. Ini catatan impresif Sang Raksasa Asia di sepakbola wanita.
Timnas Korea Utara wanita terakhir kali mengikuti Piala Asia pada edisi 2010. Saat itu, Eastern Azaleas keluar sebagai runner up usai kalah dari Australia. Sejak 2014, Korea Utara sudah absen imbas skandal doping pada 2011 yang mengakibatkan FIFA harus memberi sanksi ban selama 4 tahun.
Selain larangan bermain di event internasional, Korea Utara juga didiskualifikasi di Piala Dunia 2011 dan dilarang tampil di Piala Dunia 2015. Setelahnya, mereka gagal melaju ke Piala Asia 2018 dan menolak berkontribusi di Piala Asia 2022 karena pandemi.
Hal ini berdampak besar bagi generasi emas Korea Utara. Pemerintah terus berupaya melakukan pembinaan pemain muda, salah satunya dengan membangun sekolah sepakbola internasional di Pyongyang pada tahun 2013.
Meski negara ini semakin terisolasi secara politik, sepakbola muncul sebagai salah satu jalan bagi Korea Utara untuk meraih kesuksesan di kancah Internasional. Di bawah kepemimpinan Kim Jong-il, sepakbola wanita hadir sebagai platform tidak langsung untuk menyebarkan agenda politik.
"Karena isolasi politik Korea Utara, sepak bola wanita adalah salah satu dari sedikit bidang di mana negara tersebut dapat menunjukkan keunggulan kepada khalayak internasional," tulis Jung Woo Lee, dosen senior kebijakan olahraga dan rekreasi di Universitas Edinburgh, seperti yang dilansir dari The Guardian, Senin (23/2/2026).
Berkat investasi Korea Utara lewat Sekolah Sepakbola Internasional Pyongyang, tim-tim muda nasional terus mengalami gelombang kesuksesan. Di level-U17, mereka berhasil menjuarai Piala Asia 2024 dan Piala Dunia 2025. Sementara di level U-20, Korea


