Kemenlu Iran Serang Balik Australia: Pemain Timnas Putri Kami Disandera
Kementerian Luar Negeri Iran angkat suara soal pemain Timnas Putri yang mengajukan suaka di Australia. Mereka disebut disandera, seraya mengajaknya pulang.
Beberapa pemain Timnas Putri Iran, menurut media-media internasional, mengajukan suaka untuk tetap berada di Australia, usai berlaga di Piala Asia 2026. Mereka adalah Fatemeh Pasandideh, Zahra Ghanbari, Zahra Sarbali, Atefeh Ramazanzadeh, dan Mona Hamoudi. Mereka mencari suaka karena khawatir dengan persekusi yang dialami apabila pulang ke Iran.
Gara-garanya, pemain Timnas Putri Iran sempat menolak menyanyikan lagu kebangsaan di Piala Asia 2026. Mereka kabarnya langsung dicap sebagai pengkhianat rezim pemerintah Iran saat ini.
Aksi tolak menyanyikan lagu kebangsaan itu dilakukan saat pemerintahnya memang sedang bergejolak. Iran saat ini tengah berperang melawan Amerika Serikat dan Israel, yang tengah berusaha menggulingkan rezim Khamenei.
Juru Bicara Menteri Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menilai bahwa beberapa pemain Timnas Putri Iran yang menolak pulang sedianya tengah 'disandera' Australia. Ia menyebut, justru negara-negara yang pro AS yang menindas perempuan.
Baghaei mencontohkan dengan serangan AS-Israel ke sekolah putri di Minab akhir Februari lalu. Serangan itu membuat 165 anak-anak perempuan tewas.
"Mereka membantai lebih dari 165 siswi Iran yang tak bersalah dalam serangan Tomahawk ganda di kota Minab, dan sekarang mereka ingin menjadikan atlet kami sandera atas nama 'menyelamatkan' mereka? Keberanian dan hipokrisinya sungguh mengerikan," tulisnya di X.
"Kepada Tim Sepakbola Wanita Iran: jangan khawatir, Iran menanti kalian dengan tangan terbuka. Pulanglah," serunya.
Serangan AS-Israel terjadi sejak akhir Februari lalu. Serangan di sekolah putri Minab


