Antisipasi Kasus Pelecehan Terulang, FPTI Larang Kepelatihan Dilakukan Berdua
Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) melakukan beberapa perubahan guna mencegah kasus pelecehan seksual terulang dalam lingkup cabang olahraganya. Salah contoh, selama kepelatihan tak boleh hanya berdua.
Panjat tebing terus berbenah setelah beberapa atletnya mengalami kejadian pelecehan seksual selama menjalani pemusatan latihan nasional. Sejumlah langkah antisipasi dilakukan dari mulai mengganti komposisi susunan kepelatihan, hingga memastikan kondisi mental atlet kembali seperti semula.
Induk kepemimpinan Yenny Wahid ini bahkan membuat aturan yang lebih ketat dan tegas secara internal guna melindungi para atletnya dari perlakukan-perlakukan yang tidak sesuai norma, serta memutus rantai pelecehan serupa terulang.
"Jadi kami dari federasi sudah melakukan beberapa langkah. Yang pertama tentu kami berkoordinasi dengan aparat penegak hukum. Kami kemudian membuat aturan yang lebih tegas lagi secara internal," kata Yenny dalam keterangannya saat ditemui di kawasan SCBD, Rabu malam.
"Juga melakukan membuat aturan-aturan safeguarding untuk memastikan bahwa tidak ada lagi ruang yang memungkinkan kejadian semacam ini bisa terjadi. Kami membuat protokol yang makin diperketat, misalnya adalah ketika pelatihan tidak boleh berdua. Ini contoh-contohnya dan yang kami buat ke depan nanti," tuturnya.
"Jadi perlindungan memang sangat kami kuatkan ke depannya. Nah, kalau saya pribadi, bagi kami yang paling penting adalah anak-anak atlet ini segera pulih mentalnya."
"Ini menjadi salah satu fokus kami yang paling utama. Karena kami sudah harus menghadapi kualifikasi di China, awal April nanti. Jadi penting sekali anak-anak sudah bisa bersemangat kembali," lanjutnya.
Yenny bersyukur, seiring waktu yang terus berjalan, atlet-atletnya sudah


