Woodball Indonesia Desak Standarisasi Lapangan usai SEA Games 2025
Ketua Umum IWbA, Aang Sunadji, menilai belum adanya standarisasi lapangan membuat persaingan menjadi tidak ideal. Pernyataan itu disampaikan Aang dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2026 di kawasan Senayan, Selasa (12/5/2026).
Indonesia hanya membawa pulang empat medali perak dan dua medali perunggu di SEA Games 2025, jauh dari target lima medali emas.
Padahal, atlet-atlet woodball Indonesia selama ini mendominasi ranking dunia. Di sektor putra, Ahris Sumariyanto menempati ranking satu dunia. Sementara Susilo Marga Nugraha berada di posisi keempat dan I Putu Ari Kuncoro di urutan kelima.
Untuk sektor putri, Siti Masithah berada di ranking pertama dunia dan Finda Tri Setianingrum di posisi kedua.
"Buat kami, target yang tidak tercapai kemarin (SEA Games 2025), itu tidak kami terima jadi kekalahan tapi tidak adanya standarisasi," kata Aang.
Menurut Aang, kondisi lapangan yang tidak seragam sangat memengaruhi performa atlet, terutama bagi tim yang minim waktu adaptasi.
Karena itu, IWbA akan membawa isu tersebut dalam forum General Assembly International Woodball Federation (IWbF) di Taiwan pada November mendatang.
"Standar lapangan harus jelas agar kompetisi berlangsung adil, terutama untuk kondisi lapangan yang tidak rata. Sebab itu, kami akan menyuarakan ini ke Federasi Internasional nanti supaya hasilnya bisa adil untuk semua, terutama di SEA Games Malaysia selanjutnya," ujar Aang.
"Dan ini bukan cuma buat Indonesia, tapi untuk perkembangan woodball dunia juga, jadi saya sudah menyampaikan langsung ke Presiden IWbF mengenai hal ini."
IWbA berharap adanya standarisasi lapangan bisa membuat persaingan woodball internasional berjalan lebih adil dan profesional.
Apalagi Indonesia selama ini menjadi salah satu kekuatan


