Tahun Berganti, Larangan Tandang Suporter Super League Masih Relevan?
Suporter klub Indonesia masih dilarang menjalani lawatan di Super League musim ini. Apakah aturan itu masih relevan?
Tragedi Kanjuruhan menjadi pemicu larangan away untuk suporter di tanah air. Pertandingan antara Arema FC dengan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang Jawa Timur pada 1 Oktober 2022, memakan korban jiwa 135 orang.
Dalam laga itu, Bajul Ijo memetik kemenangan 3-2 atas Singo Edan di hadapan Aremania. Selepas laga, Pendukung tuan rumah menginvasi lapangan hingga memicu petugas keamanan melakukan tembakan gas air mata.
Kepanikan di tribune membuat suporter berlarian. Karena pintu keluar yang kecil, terjadi chaos yang akhirnya memakan korban jiwa.
Selepas tragedi itu, PSSI mengambil langkah larangan away untuk kompetisi. Sudah berlangsung selama lebih empat tahun, larangan itu masih juga belum dicabut.
PSSI mengaku masih diawasi FIFA soal suporter. Tapi, bukti hitam di atas putih larangan suporter away di Super League dari FIFA soal suporter away tak pernah ditunjukkan oleh PSSI.
Pada perkembangannya, beberapa kelompok suporter sudah menunjukkan bahwa menonton sepakbola tak melulu berujung kerusuhan. Pertandingan Persebaya vs PSIM Yogyakarta dan Persija Jakarta vs PSIM menjadi buktinya. Suporter bisa tetap tertib setelah laga, bahkan ada aksi tukar makanan.
Pengamat sepakbola, Mohamad Kusnaeni, menilai bahwa PSSI harus mulai mengkaji punishment and reward soal larangan away untuk suporter klub Indonesia. Edukasi harus dikedepankan oleh PSSI dan I League selaku operator liga agar suporter bisa diedukasi dan
"Larangan suporter away itu hak PSSI, itu memang masing-masing negara mempunyai pertimbangan sendiri bahwa kehadiran suporter away itu tidak berdampak negatif pada PSSI. Namun


