Simon Tahamata: Indonesia Minim Kompetisi Usia Dini
Kepala Pemandu Bakat PSSI Simon Tahamata menyoroti minimnya kompetisi usia muda di Indonesia. Hal ini menjadi penghambat kinerjanya.
Simon ditunjuk PSSI saat Timnas Indonesia ditangani para pelatih dari Belanda pada awal 2025. Setelah Kluivert dicopot pada akhir 2025, Simon tidak meninggalkan posnya di PSSI.
Ia bertugas untuk mencari bibit-bibit pemain muda yang bisa diorbitkan. Namun ia kesulitan karena minimnya kompetisi usia muda di Indonesia.
"Selama saya di sini, saya tidak pernah melihat (kompetisi) untuk anak-anak umur sekitar 9 tahun sampai 10 tahun," kata Simon kepada wartawan di Jakarta baru-baru ini.
"Padahal itu yang penting untuk anak-anak kita. Dasar, adalah yang paling penting untuk bangsa ini," ujarnya menambahkan.
Berbeda dengan di Belanda, tugas seorang pemandu bakat relatif lebih mudah dibanding di Indonesia. Dengan menjamurnya kompetisi usia muda, pemandu bakat tinggal memantau pemain yang dianggap layak dipromosikan.
Dengan berlatih sedari usia muda, teknik dasar para pemain dari Belanda pun jauh lebih baik. Sementara di Indonesia, teknik dasar pemain masih menjadi sorotan para pelatih.
"Dari umur 7 tahun sampai 8 tahun seharusnya anak-anak sudah bermain di klub. Sama seperti di Belanda, bahkan di sans anak-anak umur 8 tahun sudah berkompetisi," ucap Simon Tahamata.


