Italia Harus Berhenti Hidup di Kejayaan Masa Lalu
Gagal ke Piala Dunia tiga kali beruntun adalah catatan yang memalukan. Tapi realita memang kadang pahit dan Italia harus sadar mereka bukan lagi raksasa.
Italia kembali gagal lolos ke Piala Dunia. Kekalahan adu penalti dari Bosnia & Herzegovina, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB, memastikan Gli Azzurri absen dari pesta sepakbola terakbar itu tiga edisi beruntun.
Bagi Italia, ini menandai titik terendah baru dalam sejarah mereka. Sebagai negara yang sudah empat kali juara Piala Dunia, hasil dalam 20 tahun terakhir ini layak disebut memalukan.
Setelah juara Piala Dunia 2006 di Jerman, mereka terhenti di fase grup pada 2010 dan 2014. Itu lantas diikuti tiga kali kegagalan mencapai putaran final karena terhenti di play-off.
Pelatih Slovakia asal Italia, Francesco Calzona, menyebut orang-orang di sepakbola negaranya masih hidup dalam kejayaan masa lampau. Mereka masih menganggap Italia salah satu yang terbaik di dunia padahal kenyataannya tidak berbicara demikian.
"Di Italia, kami berhenti karena kami selalu berpikir bahwa kami di antara yang terbaik. Sekarang negara-negara seperti Norwegia, Austria, Turki, Swedia sudah menyalip kami," ungkap mantan pelatih Napoli itu.
"Dan kami masih berpikir kami bagus, dan ini kali ketiga beruntun kami tidak lolos ke Piala Dunia. Kami harus bersikap rendah hati, tidak angkuh, dan melakukan segala upaya yang bisa dilakukan untuk berbenah," imbuhnya.
Italia sudah banyak disoroti soal ketertinggalannya di sepakbola. Salah satu contoh nyatanya adalah penggunaan stadion-stadion yang dibangun sebelum Perang Dunia II.


