Iran Merasa Didzalimi di Piala Dunia 2026, Ini Respons AS
Iran merasa kesal usai menjalani laga pertamanya di Piala Dunia 2026. Usai melawan Selandia Baru, Mehdi Taremi dkk diminta langsung meninggalkan AS, kembali ke Meksiko yang menjadi markas sementaranya selama perhelatan.
Kondisi itu membuat Iran merasa kepayahan. Alih-alih mendapat waktu beristirahat, mereka harus segera kembali pulang ke Meksiko dengan pesawat. Pelatih Amir Ghalenoei bahkan menyebut timnya paling menderita di Piala Dunia 2026.
Kondisi itu memang menambah panjang daftar kesulitan Iran. Sebelumnya mereka juga kesulitan soal visa untuk berlaga di Piala Dunia 2026, yang membuat beberapa anggota tim tak bisa mendampingi skuad di turnamen karena ditolak masuk AS.
Situasi itu akhirnya dikeluhkan Federasi Sepakbola Iran (FFIRI), yang merasa diperlakukan sangat berbeda dengan 47 negara peserta lainnya. Mereka mengancam akan melaporkannya ke FIFA.
Merespons hal itu, Amerika Serikat angkat suara. Lewat utusan Trump untuk Piala Dunia 2026, Andrew Giuliani, mereka menegaskan siap membuka ruang diskusi untuk membahasnya.
"Semuanya bersifat dinamis, hal-hal ini bisa dibahas, dan kami tentu ingin menciptakan persaingan yang adil di lapangan. Itulah sebabnya setiap pelatih di tim sudah memiliki visa dan berkesempatan untuk datang," kata Giuliani kepada Telegraph Sport.
"Presiden (Donald Trump) ingin memastikan turnamen ini mencapai keseimbangan kompetitif, sekaligus memastikan bahwa pihak-pihak yang bermasalah tidak masuk ke negara ini. Kami telah melakukannya, dengan sisa waktu satu bulan lagi," terangnya.
Jelang pertandingan kedua melawan Belgia, Timnas Iran juga kesal tak boleh datang dua hari sebelum laga di Los Angeles. Giuliani menegaskan hal itu sudah dibahas sebelum turnamen dan Iran disebut menyetujuinya. Namun,


