Buffon: Italia Rindu Para Fantasista
Kiper legendaris Italia Gianluigi Buffon menyebut sejumlah alasan timnasnya gagal ke Piala Dunia tiga kali beruntun. Salah satunya ketiadaan para fantasista.
Timnas Italia absen tiga kali berturut-turut dari Piala Dunia. Kekalahan dari Bosnia & Herzegovina pada final play-off akhir Maret lalu membenamkan Gli Azzurri pada kubangan yang sama.
Lebih sial lagi buat Italia, Piala Dunia 2026 bahkan sudah diekspansi jumlah pesertanya menjadi 48 tim. Maka kritik tajam pun mengarah ke negara pemilik empat gelar Piala Dunia itu.
Kritik paling deras menyoal minimnya kepercayaan terhadap pemain-pemain muda, sehingga talenta baru sulit berkembang. Lalu perihal struktur kompetisi muda dan infrastruktur yang ketinggalan zaman.
Buffon punya pandangannya tersediri soal penghambat terbesar Italia. Salah satunya adalah minimnya para fantasista yang bisa menghadirkan hal-hal ajaib.
Lebih dari sekadar posisi, fantasista adalah sebuah peran. Meski umumnya berposisi sebagai gelandang serang, fantasista tak semata-mata main di sana.
Para pemain ini merupakan pusat permainan, punya ciri khas sangat kreatif, berteknik tinggi, dan kerap menghadirkan momen ajaib dengan sentuhan, umpan, dan visinya. Buffon percaya ketiadaan pemain-pemain semacam ini telah melukai Italia.
"Alasan pertama adalah globalisasi, yang memungkinkan semua tim menjadi sangat kompetitif dan level rata-rata permainan telah banyak meningkat," ungkapnya soal sebab Italia meredup.
"Kedua, sampai 15 tahun lalu ketika kami biasa menang, kami secara taktik lebih kuat dari para lawan. Dan ketiga, kami punya pemain-pemain yang fantastis, cuma yang tidak ada adalah talenta-talenta yang sangat kreatif seperti Baggio, Del Piero, atau Totti, yang biasa membantu kami menang," imbuh Buffon.


