Bisakah Indonesia Raih 3 Emas di Olimpiade 2028?
Indonesia sudah menyamai torehan rekor emas Olimpiade 2024. Bisakah Merah-Putih melewati batas itu di Los Angeles dua tahun lagi?
Indonesia membawa pulang dua emas dari Paris atas nama Veddriq Leonardo dari cabor panjat tebing dan Rizki Juniansyah dari cabor angkat besi. Ini menyamai catatan medali emas Barcelona 1992 atas nama Alan Budikusuma dan Susi Susanti.
Pencapaian apik Indonesia itu tidak lepas dari bantuan banyak pihak, baik di depan maupun belakang layar. Di era olahraga modern saat ini, bukan cuma pelatih yang berperan untuk kesuksesan atlet.
Tapi, ada tim di belakang layar yang menyajikan data akurat soal perkembangan atlet dan lawan-lawannya. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) melalui Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) berperan juga membuat Indonesia meraih dua emas.
Salah satu perumus DBON adalah Del Asri, seorang dosen di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang bekerja dalam sebuah tim untuk melihat data-data perkembangan atlet Indonesia dan juga rival.
DBON disebut jadi road map yang berbasis bukti, karena Del Asri memilih melihat jauh ke belakang untuk memetakan target bagi atlet-atlet Indonesia.
Kami sepakat untuk menelusuri data hingga ke pertama kali Indonesia mengikuti Olimpiade dan Asian Games. Dari jejak sejarah itu, kita bisa mengevaluasi prestasi secara objektif, lalu memprediksi sampai di mana posisi Indonesia pada kurun waktu tertentu," tutur Del Asri dalam rilis kepada detikSport.
"Setelah data kolektif terkumpul, kami meramunya dengan berbagai unsur pendukung prestasi lainnya, termasuk regulasi. Dari sana lahirlah cetak biru prestasi olahraga nasional yang kita kenal sebagai DBON 2021-2045," sambung De Asri.
DBON inilah yang membuat Del Asri kemudian menyandang gelar Doktor


