Alasan MU Enggan Cepat-cepat Permanenkan Carrick
Performa apik Manchester United dalam tiga laga terakhir turut mengangkat reputasi Michael Carrick selaku manajer interim. Meski begitu, Setan Merah enggan terburu-buru mempermanenkan status pelatih 44 tahun tersebut.
Tiga kemenangan berturut-turut dalam dua pekan atas Manchester City, Arsenal, dan Fulham membawa MU naik ke urutan empat klasemen sementara Premier League musim ini dengan 41 poin. Padahal sebelum itu, MU meraih tiga hasil imbang beruntun atas tim-tim macam Wolverhampton Wanderers, Leeds United, dan Burnley.
Sejumlah pihak mulai berkoar-koar dengan menyebut Carrick layak naik pangkat sebagai manajer tetap. Meski begitu, BBC melaporkan manajemen MU tetap adem-ayem menyikapi hal tersebut.
Setelah memecat Ruben Amorim awal bulan lalu, MU memang ingin memaksimalkan waktu yang mereka punya sampai musim panas nanti untuk mempertimbangkan daftar kandidat yang ada sambil terus memantau kinerja Carrick. Mereka enggan gegabah.
Manajemen saat ini belajar dari apa yang dilakukan direksi sebelumnya saat mempermanenkan Ole Gunnar Solskjaer pada 2019. Pelatih asal Norwegia itu sebelumnya juga berposisi manajer interim seperti Carrick saat ini.
Menggantikan Jose Mourinho saat itu, Solskjaer memulai tugasnya dengan apik. MU hanya sekali tumbang dalam 17 laga pertama bersamanya, termasuk memenangkan delapan laga awal.
MU lalu memberi Solskjaer kontrak permanen tiga tahun. Namun setelah itu, MU hanya menang dua kali dalam 12 laga terakhir musim tersebut, delapan di antaranya berujung kekalahan. Tak ingin kesalahan serupa terulang, MU kini memilih menunggu.
Selain itu, ada faktor lainnya, yakni ketersediaan sejumlah pelatih potensial di musim panas mendatang, termasuk Oliver Glasner, Andoni Iraola, hingga Thomas Tuchel. MU


