Tak Seperti Piala Dunia, Prestianni Law Takkan Dipakai di Liga Champions
UEFA memutuskan takkan menerapkan Prestianni Law di Liga Champions musim depan. Padahal aturan tersebut lahir karena insiden yang terjadi di ajang antarklub elite Eropa itu musim lalu.
Prestianni Law adalah aturan yang baru berlaku di Piala Dunia 2026, membuat seorang pemain berpotensi menerima kartu merah jika berbicara dengan lawannya sambil menutup mulut dalam situasi konfrontatif. Sudah dua orang yang menjadi 'korban' selama turnamen.
Miguel Almiron (Paraguay) menjadi pemain pertama yang menerima kartu merah karena aturan ini dalam laga melawan Turki di fase grup. Kemudian Piero Hincapie (Ekuador) juga menerimanya dalam laga 32 besar melawan Meksiko.
Namun The Athletic dan BBC melaporkan bahwa UEFA telah mengumumkan pada Kamis (2/7) dan menyatakan aturan ini takkan dipakai di ajang yang mereka naungi, yakni Liga Champions, Liga Europa, dan Conference League di level klub dan Piala Eropa serta UEFA Nations League di level timnas.
Induk sepak bola Eropa itu meminta wasit yang bertugas untuk menilai kasus yang terjadi di lapangan dengan seksama, dan hanya memberikan kartu kuning jika memang ada seorang pemain yang menutup mulut saat berbicara hal-hal yang tidak sportif.
Namun UEFA juga menegaskan bahwa "saran ini jelas tanpa mengurangi penyelidikan atau proses disiplin apa pun yang mungkin terjadi sebagai konsekuensi dari, atau terkait dengan, perilaku tersebut."
Selain Prestianni Law, UEFA juga takkan memberikan kartu merah kepada pemain yang mogok bermain. Namun mereka akan mengadopsi penerapan Video Assistant Referee untuk mengecek tendangan sudut yang harusnya menjadi goal kick. Dua aturan itu juga baru berlaku di Piala Dunia 2026.
Untuk diketahui, Prestianni Law bermula dari insiden yang terjadi pada laga playoff


