PSSI Ancam Klub Sanksi Pengurangan Poin Jika Suporter Anarkis
PSSI mengancam klub sanksi pengurangan poin jika suporter melakukan tindakan anarkis. Federasi menilai bahwa suporter masih melakukan tindak kekerasan.
Baru-baru ini terjadi insiden penyerangan terhadap bus tim EPA Persib terjadi di Tol Batang, Jawa Tengah, Minggu (11/10/2026). Di lokasi lain, ada juga penyerangan terhadap bus rombongan yang ditumpangi suporter Persija Jakarta, The Jakmania, di Tol Palikanci, usai pulang dari Yogyakarta, Senin (12/10).
Berbagai insiden ini membuat PSSI menilai bahwa suporter belum sepenuhnya berkomitmen untuk menciptakan iklim sepakbola yang kondusif. Sanksi tegas pun dinilai akan menjadi rem bagi suporter untuk lebih menjaga sikap.
Selain pengurangan poin, PSSI juga membuka untuk mengkaji ulang pencabutan larangan away. Tragedi Kanjuruhan yang bermula dari rivalitas kelewat batas dinilai belum menjadi bahan pelajaran bagi suporter.
"PSSI meminta liga (I.League) dan klub-klub bertanggung jawab atas kegiatan pertandingan liga atau pertandingan klubnya. Kesepakatan PSSI dan semua keluarga sepakbola kepada FIFA adalah memastikan seluruh suporter pulang ke rumah dengan selamat," kata Ketum PSSI Erick Thohir di Kantor Kemenpora, Selasa (13/10).
"Saya akan mendorong klub-klub yang tidak bisa menjaga suporternya, pengurangan poin sekarang. Tapi saya kasih kesepakatan dulu, cuma kita akan lakukan tindak tegas pastinya. Karena intinya tadi, sama keselamatan," ujarnya menambahkan.
Atas kejadian-kejadian baru-baru ini, PSSI meminta kepada operator dan klub untuk evaluasi. Federasi tidak ingin kekerasan terus menjadi warna sepakbola Indonesia.
Jika tidak ada solusi, Erick Thohir juga mengancam akan mencabut izin suporter away. Kebijakan suporter away yang baru dilaksanakan sejak awal musim ini


