Mencari Bibit Emas Sepakbola Papua
Papua selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan alam melimpah. Di balik bentang pegunungan dan tanahnya, tersimpan sumber daya mineral yang menjadi bagian penting dari sejarah pertambangan Indonesia.
Namun, di tanah yang sama, ada kekayaan lain yang bisa 'ditambang' yakni talenta sepakbola yang sejak lama melahirkan pemain-pemain di kompetisi liga nasional hingga tim nasional Indonesia.
Melalui Papua Football Academy (PFA), PT Freeport Indonesia menggali bakat-bakat terpendam dan menempa bibit-bibit pesepakbola muda untuk bisa berlaga di jenjang profesional.
PFA diresmikan pada 31 Agustus 2022 oleh Presiden Ke-7 RI, Joko Widodo, di Jayapura. Akademi yang didukung penuh PT Freeport Indonesia itu menjadi wadah pengembangan pesepakbola muda Papua, dengan memadukan latihan sepakbola, pendidikan formal, pembentukan karakter, nutrisi, psikologi, hingga aspek perlindungan anak. Seluruh kegiatan PFA berpusat di Mimika Sport Complex, Timika.
Kini, PFA menjadi tempat bagi 60 anak Papua berusia sekitar 13 hingga 15 tahun. Mereka tidak hanya datang untuk mengejar mimpi menjadi pesepakbola profesional. Di akademi ini, mereka juga disiapkan menghadapi kehidupan di luar lapangan.
"Tujuan di sini kita mau edukasi anak di dalam tiga hal, lifestyle, sekolah akademik, dan edukasi untuk sepakbola," kata Direktur PFA, Wolfgang Pikal, di Mimika Sport Complex, Timika, Papua, Selasa (15/9/2026).
Menurut Wolfgang, PFA memiliki tujuan yang lebih panjang dari sekadar menghasilkan pemain untuk kompetisi usia muda. Setelah menyelesaikan pendidikan SMP, para pemain diharapkan dapat melanjutkan pendidikan sekaligus karier sepakbolanya ke berbagai akademi elite di Pulau Jawa, termasuk akademi klub Liga 1.
Bagi PFA,


