Arsenal Memang Niat Main Bertahan Karena...
Gelandang Arsenal Declan Rice mengungkap timnya memang main bertahan saat melawan Paris Saint-Germain di final Liga Champions tadi malam. The Gunners tak ingin masuk 'perangkap' Les Parisiens.
Duel yang berakhir 1-1 selama 120 menit di Puskas Arena, Budapest, Sabtu (30/5/2026) itu berjalan alot. Arsenal unggul cepat lewat Kai Havertz di menit ke-6 usai memanfaatkan kesalahan Marquinhos, namun setelah itu mereka 'mundur ke belakang'.
Bermain menunggu sejak awal, Arsenal cenderung fokus bertahan, membiarkan PSG memegang bola namun tetap menerapkan pressing sambil berharap PSG melakukan kesalahan lalu menghukum dengan serangan balik. Aksi itu hanya bertahan sampai pertengahan babak kedua.
Tim asuhan Mikel Arteta baru terpaksa kembali keluar dari sarang usai PSG menyamakan skor via penalti Ousmane Dembele di menit ke-65, yang bermula dari tekel ceroboh Cristhian Mosquera terhadap Khvicha Kvaratskhelia.
Sejumlah pergantian dilakukan. Viktor Gyokeres, Noni Madueke, Gabriel Martinelli, hingga Eberechi Eze dimasukkan untuk menyegarkan lini serang Arsenal, namun mereka tetap tidak memegang kendali permainan.
Ditambah Piero Hincapie yang mulai pincang namun Arsenal sudah kehabisan jatah pergantian pemain, maka bertahan tampak menjadi opsi aman, dan itu berhasil sampai adu penalti.
Pada akhirnya, Arsenal sudah memaksa PSG berjuang sampai tepi jurang. Namun pada akhirnya drama adu penalti lebih memihak tim asuhan Luis Enrique, yang akhirnya menjadi kampiun Eropa dua musim beruntun.
"Melawan PSG, Anda harus fokus secara mental sepanjang laga. Saya yakin orang-orang menginginkan laga ulangan (PSG) seperti melawan Bayern (di semifinal), tetapi jika kami bermain seperti itu... itulah yang mereka inginkan," ujar Rice usai laga, dikutip


